Tiga Alasan Liverpool Tidak Akan Juara Liga Champions

Liverpool tampil mengesankan di pertandingan semifinal leg pertama saat melawan AS Roma. Tim asuhan Jurgen Klopp tersebut mampu meraih kemenangan dengan skor telak 5-2 di Anfield.

Hasil tersebut membuat Liverpool sangat difavoritkan untuk melangkah ke partai final. Mereka hanya butuh hasil imbang saja di Olimpico untuk tampil di Kiev.

Kini para pendukung Liverpool mulai bermimpi kalau tim kesayangannya akan bisa meraih trofi Liga Champions pada musim ini. Namun, mereka juga harus tetap membumi karena The Reds punya potensi untuk gagal menjadi juara.

Berikut ini tiga alasan Liverpool tak akan juara Liga Champions :

1.Kurang Pengalaman

Liga Champions tidak bisa dimenangkan dengan mudah dan karena itulah mengapa itu disebut kompetisi klub papan atas Eropa. Hanya tim terbaik yang bisa keluar sebagai juara beberapa kali seperti Real Madrid, Barcelona atau Bayern Munchen.

Dominasi mereka di Eropa saat ini adalah hasil dari pertarungan mereka di kompetisi secara rutin dan akhirnya mereka memiliki mental juara di timnya masing-masing.

Setelah menghabiskan ratusan juta euro, PSG dan Manchester City sempat dianggap favorit. Pemain-pemain seperti Neymar, Kylian Mbappe, Kevin de Bruyne dan Leroy Sane sepertinya tidak bisa dihentikan tetapi mereka justru tak mampu membawa timnya ke babak semifinal.

Di sisi lain, Real Madrid saat ini dianggap sebagai favorit – meski tampil buruk di pentas domestik – karena mereka sangat berpangalaman di pertandingan besar dan tahu caranya mengadapi tekanan. Oleh karena itu, pengalaman itu sangat penting dan tidak boleh diremehkan.

Liverpool terakhir kali menjadi juara pada tahun 2005, lebih satu dekade lalu. Mereka setelah itu tidak konsisten dan kesulitan, tetapi tahun ini mampu melampaui semua ekspektasi.

Namun, kurangnya pengalaman melawan tim papan atas bisa menentukan hasil Liverpool pada akhir bulan depan.

2.Roma Belum Habis

Setelah menang telak atas AS Roma di leg pertama, Liverpool sangat difavoritkan untuk melangkah ke final. Namun, klub Italia itu juga punya tabungan dua gol tandang.

Keunggulan 5-2 bisa terbuang percuma, jika Giallorossi bisa mengulangi comeback luar biasa mereka di perempat final. Roma mampu mengalahkan Barcelona 3-0 meski kalah 4-1 di pertemua pertama sehingga tim asuhan Eusebio Di Francesco berhak melaju ke semifinal berkat keunggulan gol tandang.

Klopp harus memastikan timnya tidak kebobolan tiga gol saat berkunjung ke Olimpico. Perjalanan Liverpool ke Ethiad mungkin tidak berakhir menyenangkan jika gol Leroy Sane tidak dianulir oleh wasit.

Roma mungkin tidak akan langsung menyerang secara frontal seperti City di babak perempat final, karena pendekatan mereka kemungkinan akan jauh lebih taktis dan hati-hati. Oleh karena itu, Liverpool belum bisa dikatakan aman untuk ke final sebelum peluit panjang di leg kedua berbunyi.

3.Lawan Berat Di Final

Apabiila Liverpool mampu melewati AS Roma dan masuk ke final, mereka akan menghadapi salah satu dari juara bertahan Real Madrid atau raksasa Bundesliga Bayern Munchen di Kiev.

Kedua tim ini tampil cukup konsisten di pentas Eropa dan mereka berdua telah memenangkan empat dari lima gelar Liga Champions terakhir.

Gegenpressing ala Klopp mungkin efektif melawan Pep Guardiola, tetapi mereka mungkin tidak akan mudah melewati tim asuhan Juup Heynckes dan pelatih Bayern tersebut sudah pernah mengangkat trofi Liga Champions dua kali.

Di sisi lain, Madrid akan senang melihat lawan-lawannya meninggalkan ruang bagi pemain kelas dunia Los Blancos untuk mencari peluang. Ini artinya Liverpool mungkin harus mengadopsi taktik yang berbeda untuk meraih kesuksesan. Jalan ke Kiev mungkin terbuka lebar bagi The Reds, tapi masih ada ujian besar yang menanti sebelum mereka meraih gelar Eropa keenam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here